Langsung ke konten utama

Prahara

 


Sunyi dan gaduh saling berpacu

Pada seluruh penjuru di penghujung waktu

 

Ibu, kita ditengah untaian duka

Polemik hidup kini jadi prahara

 

Sesal apakah masih berguna?

Kini air mata tiada lagi makna, kan

 

Sebutir nasi adalah hidup

Satu ucap kata-pun hidup

Seuntai doa jugalah hidup

 

Sayang…

Semua dimaknai dengan hidup jika sedang dalam praahara

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Review Buku "Catatan Juang" - Fiersa Besari

Judul                            : Catatan Juang Penulis                          : Fiersa Besari Penyunting                    : Juliagar R.N. Penyunting Akhir         : Agus Wahadyo Desainer Cover             : Budi Setiawan Penata Letak                  : Didit Sasono Penerbit                                : Mediakita – Jakarta Selaatan                             ...

TITIK TUMPU

Manusia tidak selalu berada dalam stabilitasnya Mengingat, bahwa kerancuan selalu menggerogoti setiap keyakinan, setiap pikiran, juga setiap kelakuan. Sabar sebentar untuk terdiam Berlari tak kan membuat seimbangmu utuh, layak dulu Jangan jalan terpanting, cobalah berporos Singgahlah, kopimu menunggu Tetap jadilah tempat berpijakku Layaknya kamu, aku tak bisa tanpa titik tumpu.

Aku Yang Terlambat Denganmu

Hari begitu tega berlalu, hei! sapamu saja belum aku temui Seperti permainan umur 10ku "Hanya Lewat...." Melewatiku begitu saja, tanpa sejenak berhenti Tepatnya, kamu melewatkanku Sengaja ku pilih bisu, Seberapa tahan kamu memilih beku? Rasanya pasrah, kamu batu Namun, aku lebih dari itu Atau saja aku yang terlalu sibuk mendambamu Membuta tak ingin tahu kerangka berpikirmu Membisu, yang kulakukan dulu Sadarku tidak diwaktu yang tepat Berada dalam kenyataan sekarang Kamu berpijak pada pilihanmu Sudahlah, memang ini aku Yang terlambat denganmu Nana Krisdianti Sukoharjo, 01 November 2018